Mencegah H-2 Syndromm: Kerjakan Sedikit demi Sedikit Setiap Hari

Posted by on 6 Oktober 2011

Satu-satunya cara agar dapat terhindar dari H-2 Syndromm adalah mengerjakan tugas-tugas dan pekerjaan setiap hari sedikit demi sedikit. H-2 Syndromm adalah suatu gejala stress yang timbul sekitar 2 hari menjelang perkuliahan, semakin dekat waktu memasuki akhir pekan, semakin kuat stress yang terjadi hingga berpotensi menumpuk sampah psikologis yang dapat berujung pada penyakit fisik yang sesungguhnya. Kelanjutan dari gejala ini adalah kejenuhan yang semakin tinggi mengingat banyaknya tugas yang harus diselesaikan dalam waktu yang sangat singkat hingga menyebabkan penundaan, hal ini lah yang pada akhirnya menghapuskan tradisi Sistem Kebut Satu malam menjadi Besok Aja Lah, masih ada waktu sehabis shubuh.


Pekerjaan arsitek merangkum banyak sekali disiplin ilmu baik dari ranah teknis hingga filosofis karena harus melayani klien yang berbeda-beda dalam waktu yang bersamaan. Seluruh mahasiswa yang ikut kelas Sabtu-Minggu kecuali yang titipan dari kelas reguler tahu betul dinamika industri arsitektur yang sebenarnya. Berkaitan dengan kompleksitas pekerjaan tersebut, sulit sekali untuk mendapatkan hasil yang optimal hanya melalui dua hari waktu yang disediakan. Memang sepertinya cukup proporsional menempatkan lima hari dari Senin hingga Jumat untuk pekerjaan sehari-hari dan Sabtu-Minggu untuk perkuliahan, namun yang perlu disadari bersama di sini adalah bahwa Sabtu Minggu adalah waktu untuk penyajian, saatnya bagi kita untuk melakukan presentasi kepada klien kita yang bernama dosen. Jadi sebenarnya bukan waktunya lagi bagi kita untuk tetap bekerja di hari tersebut, karena semuanya sebenarnya sudah harus selesai di H-2.


Mencari cara untuk mengatasi situasi ini sangatlah penting. Berdasarkan fakta yang terjadi di lapangan, potensi putus kuliah dari mahasiswa kelas karyawan itu sangatlah tinggi. Bisa terjadi penyusutan jumlah peserta yang sangat tinggi sebelum memasuki setengah perkuliahan dari seluruh mata kuliah yang dibebankan. Semakin sedikit jumlah teman seperjuangan yang menemani perjalanan menjadi arsitek, semakin kuat dorongan untuk ikut meninggalkan perkuliahan, kecuali bagi orang-orang yang sudah menjadi anestesia.


Jadi yang perlu ditekankan di sini adalah, cobalah tanamkan dalam pikiran bahwa hari Sabtu-Minggu adalah Hari Penyajian, sesungguhnya tidak ada lagi yang bisa dikerjakan pada hari itu selain presentasi – dalam perkuliahan kita menyebutnya asistensi. Kerjakan semua tugas sedikit demi sedikit setiap hari setiap malam dan cobalah untuk menutupnya di hari Jumat malam apa pun hasil yang didapatkan. Memang berat, tapi satu teman saya yang selalu menyajikan apa adanya terbukti masih bertahan hingga sekarang dibanding beberapa teman yang ingin hasil maksimal tetapi terkena H-2 Syndromm. Tidak ada hasil yang sempurna dalam perkuliahan, karena ini adalah proses pembelajaran, jadi sajikan saja apa yang ada. Dalam situasi yang sesungguhnya proyek yang sama harus dikerjakan oleh tim dan butuh waktu jauh lebih lama untuk menyelesaikannya hingga siap guna, jadi tampilkan saja apa yang bisa ditampilkan yang bisa dikerjakan oleh satu orang yang belum menjadi arsitek sebagai media pembelajaran. Perjalanan masih panjang Bro......!!

Leave a Reply